Idham Chalid memimpin Ketua Umum PBNU selama hampir 28 tahun.
Ia dipilih pada Muktamar ke-21 (1956) dan terus menjabat melalui sejumlah muktamar ke-22 (1959), ke-23 (1962), ke-24 (1967), ke-25 (1971), dan ke-26 (1979).
Era kepemimpinan ini mencakup masa Orde Lama dan awal Orde Baru.
3. Dr. (H.C.) KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) (1984–1999)
Gus Dur terpilih sebagai Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-27 (1984), lalu terpilih kembali di muktamar ke-28 (1989) dan ke-29 (1994).
Masa jabatannya berakhir ketika dia aktif dalam kancah politik nasional, termasuk menjadi Presiden RI.
4. KH Ahmad Hasyim Muzadi (1999–2010)
Muzadi menjabat sebagai Ketua Umum PBNU setelah Muktamar ke-30 (1999), dan kemudian kembali terpilih di Muktamar ke-31 (2004).
Masa jabatannya mencakup fase pascareformasi di Indonesia.
5. Prof. Dr. KH Said Aqil Siradj, M.A. (2010–2021)
Said Aqil Siradj menjabat Ketua Umum PBNU pada Muktamar ke-32 (2010) dan kembali di Muktamar ke-33 (2015).
Kepemimpinannya cukup lama sebelum digantikan oleh Gus Yahya.
Kesimpulan
Ketegangan politik internal di tubuh PBNU menunjukkan bahwa posisi Gus Yahya berada dalam tanda tanya pada kepemimpinannya, meski mayoritas kiai sepuh menegaskan tidak ada dasar pemakzulan di luar muktamar.
Melihat dari profil Gus Yahya bagaimana latar belakang karier dan pendidikan memperlihatkan kapasitasnya dalam memimpin organisasi.
Dalam situasi itu, rekam jejak panjang pada para Ketua Umum PBNU sebelumnya memberi konteks bahwa pergantian kepemimpinan di NU selalu ditentukan melalui mekanisme organisasi yang mapan dan bukan melalui tekanan internal jangka pendek. (daf)





