Yogyakarta menempatkan mahasiswa sebagai target utama karena sebagian besar kasus baru ditemukan di kelompok usia produktif.
Rombongan Bapemperda mendapat penjelasan rinci mengenai cara mengintegrasikan program ini dengan regulasi lokal, termasuk mekanisme koordinasi antarinstansi dan pemanfaatan sumber daya daerah.
Demmu menegaskan, keberhasilan program pencegahan HIV/AIDS tidak hanya bergantung pada strategi yang diterapkan, tetapi juga pada dukungan anggaran yang memadai.
“Perlu ada alokasi dana formula yang jelas agar program pencegahan bisa berjalan efektif dan berkelanjutan,” tegasnya.
Selain mempelajari strategi teknis, kunjungan ini juga diharapkan menjadi dasar penyusunan regulasi baru di Kaltim.
Praktik baik dari Yogyakarta akan dijadikan referensi untuk memperkuat koordinasi lintas sektor, menetapkan target pencegahan yang terukur, dan memastikan implementasi program tepat sasaran.
Dengan langkah ini, DPRD Kaltim berkomitmen untuk memperkuat strategi penanggulangan HIV/AIDS melalui regulasi dan program yang efektif, sekaligus menjaga agar masyarakat, terutama generasi muda, mendapatkan perlindungan maksimal dari risiko infeksi. (adv)





