Sementara itu, situasi di istana semakin memburuk.
Zhao Gao mulai meragukan kesetiaan Qin Er Shi dan akhirnya memerintahkan pasukannya untuk membunuh sang kaisar.
Setelah itu, Zhao Gao mencoba mengangkat keponakan Qin Shi Huang yaitu Ziying sebagai kaisar boneka, tetapi tidak lama kemudian ia sendiri dibunuh oleh pasukan istana yang muak dengan kekejamannya.
Akhir Dinasti Qin
Dinasti Qin runtuh hanya 15 tahun setelah berdirinya.
Pada tahun 207 SM, pasukan pemberontak di bawah pimpinan Xiang Yu menyerbu ibu kota Xianyang dan menggulingkan kekuasaan dinasti Qin.
Kaisar terakhir dinasti Qin, Ziying, menyerah tanpa perlawanan dan kemudian dieksekusi.
Ziying, yang hanya berkuasa 46 hari sebagai kaisar, menjadi simbol akhir dinasti Qin yang dibangun dengan besi dan darah.
Runtuhnya Dinasti Qin menjadi bukti bahwa kekuasaan absolut tanpa sistem suksesi yang jelas hanya membawa kehancuran.
Meskipun Qin Shi Huang berhasil meletakkan dasar pemerintahan kekaisaran yang kuat, intrik dan perebutan kekuasaan di dinasti Qin setelah kematiannya menunjukkan betapa rapuhnya struktur politik yang dibangun dengan ketakutan dan kekerasan.
Warisan yang Bertahan
Meski berumur pendek, Dinasti Qin meninggalkan warisan besar bagi sejarah Tiongkok.
Sistem pemerintahan terpusat, pembakuan bahasa, mata uang, dan satuan ukuran yang dibentuk dinasti Qin tetap dipertahankan oleh dinasti berikutnya, termasuk Han.
Namun, tragedi yang terjadi di balik kepergian Qin Shi Huang dan intrik istana setelahnya menjadi pengingat bahwa kekuasaan tanpa moral dan legitimasi politik tidak pernah bertahan lama dan akan jatuh seperti runtuhnya dinasti Qin.
Dengan demikian, kisah pasca kepergian Qin Shi Huang bukan hanya cerita tentang kematian seorang penguasa besar, tetapi juga tentang kehancuran yang lahir dari ambisi, ketamakan, dan pengkhianatan di jantung istana kekaisaran sebagai bukti runtuhnya dinasti Qin. (daf)





