Ia mengingatkan bahwa di balik angka-angka anggaran, terdapat realitas besar yang tidak boleh diabaikan.
“Kesenjangan layanan publik masih sangat lebar,” ujarnya.
Hal ini terutama dirasakan oleh masyarakat di kawasan penyangga dan daerah yang jauh dari pusat pertumbuhan ekonomi.
Lebih jauh, Abdurrahman menyoroti bahwa pekerjaan rumah terkait penurunan stunting juga masih signifikan dan membutuhkan anggaran besar.
Stunting bukan sekadar isu kesehatan, tetapi gambaran lemahnya pembangunan dasar, mulai dari sanitasi, akses air bersih, hingga ketahanan pangan keluarga, yang harus diprioritaskan dalam belanja tahun 2026.
Ia juga menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur dan pemerataan tidak boleh menjadi korban pemotongan anggaran, karena akses jalan, jembatan, layanan pendidikan, serta fasilitas kesehatan merupakan fondasi utama peningkatan kesejahteraan dan daya beli masyarakat.
(adv)





