“Mahasiswa bisa stres, orang tua kebingungan, bahkan ada yang memilih cuti karena tidak sanggup menombok lebih dulu,” jelasnya.
Banyak mahasiswa yang berharap pada skema UKT gratis terpaksa menunda kuliah hanya karena mekanisme anggaran yang tidak sinkron.
Agusriansyah menilai pemerintah perlu memahami ritme akademik perguruan tinggi, bukan sekadar mengikuti alur birokrasi yang berbelit dan cenderung menghambat layanan pendidikan.
“Jangan sampai pencairan anggaran justru mengganggu proses belajar. Program ini seharusnya membantu mahasiswa bertahan, sekaligus mempersiapkan mereka menghadapi dunia kerja,” tegasnya.
Di lapangan, keterlambatan pencairan UKT memberikan tekanan psikologis besar, baik bagi mahasiswa maupun orang tua yang menggantungkan harapan pada bantuan pendidikan tersebut.
Risiko cuti kuliah terus membayangi hanya karena ketidaksinkronan antara kalender anggaran dan kalender akademik.
Menurut politisi PKS itu, GratisPol jangan sampai berubah menjadi sumber kecemasan baru.





