Menurutnya, masih banyak pilihan kendaraan lain dengan harga lebih terjangkau dan kemampuan medan yang memadai.
“Kalau alasannya karena jalannya berlumpur dan berbatu, banyak sekali mobil yang lebih murah dan lebih tangguh dibanding Range Rover Autobiography,” katanya.
Selain faktor teknis, ia turut menyinggung pernyataan soal pentingnya menjaga “marwah” daerah ketika menerima tamu negara.
Bagi Ferry, martabat daerah seharusnya tercermin dari kualitas pelayanan publik dan kesejahteraan masyarakat.
“Justru bukannya ketika lo bermewah-mewahan sedangkan masyarakat lo butuh bantuan, itu yang menjatuhkan marwah?” ujarnya.
Ia juga menanggapi pernyataan Rudy Mas’ud yang sempat menyinggung tidak bisa menggunakan Kijang sebagai mobil dinas. Ferry menilai kendaraan dinas bukan simbol kemewahan, melainkan alat kerja.
“Kenapa emang pakai Kijang? Nggak ada salahnya. Mobil dinas itu aset negara, bukan fasilitas pribadi,” tegasnya.
Bandingkan dengan Kebutuhan Dasar Masyarakat
Dalam videonya, Ferry memaparkan sejumlah kebutuhan mendesak di Kalimantan Timur yang menurutnya bisa menjadi alternatif prioritas anggaran.
Ia menyinggung data ruang kelas rusak berat yang masih cukup tinggi, serta keterbatasan akses fasilitas kesehatan di sejumlah wilayah.
“Dengan Rp8,5 miliar itu, lo bisa renovasi ratusan ruang kelas yang rusak berat. Bisa bangun klinik di desa, bahkan puskesmas kelas D yang proper,” katanya.
Tak hanya itu, ia juga menyoroti persoalan akses air bersih di beberapa daerah. Menurutnya, anggaran tersebut dapat dialokasikan untuk pembangunan sistem penyediaan air minum (SPAM) yang menyuplai ribuan warga.
“Uang segitu bisa dipakai untuk bangun SPAM yang menyuplai ribuan keluarga. Itu dampaknya langsung ke masyarakat,” ucapnya.
Ferry juga menyarankan agar anggaran dialihkan untuk mendukung sektor UMKM agar perputaran ekonomi daerah semakin kuat.





