Kamis, 2 April 2026

Putin Diam soal Penculikan Maduro oleh AS, Apa Alasan Strategis dan Geopolitiknya?

Rabu, 7 Januari 2026 - 13:9

BERBINCANG - Potret Vladimir Putin bersama Narendra Modi dan Xi Jinping/ IG @wladimir_putin_

MEGAPOLITIK.COM -  Presiden Rusia Vladimir Putin sampai sejauh ini memilih tidak bereaksi secara terbuka ketika Presiden Venezuela Nicolás Maduro ditangkap oleh pasukan Delta Force AS pada Sabtu lalu.

Maduro ditarik paksa dari kamar tidurnya dan kini menunggu persidangan di New York atas tuduhan perdagangan narkotika internasional.

Kejadian ini menimbulkan kegemparan global karena melibatkan intervensi militer lintas batas dan menyoroti batas-batas aliansi Rusia-Latin Amerika.

Sebelum penculikan Maduro, pasukan AS menyerang sistem pertahanan udara Buk-2MA dan radar yang dipasok Rusia, yang dipasang di pelabuhan dan bandara Venezuela sebagai bagian dari aliansi strategis Rusia-Venezuela.

Meski begitu, perjanjian pertahanan antara Moskow dan Caracas tidak mencakup bantuan militer langsung jika terjadi serangan asing.

Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut penangkapan Maduro sebagai “tindakan agresi bersenjata yang tidak dapat diterima,” namun Putin tidak mengeluarkan komentar resmi atau tindakan militer.

Para pengamat politik internasional melihat sikap Putin sebagai strategi berhati-hati, yang memadukan pertimbangan politik, keamanan pribadi, dan geopolitik global.

Kerusakan Reputasi vs Keuntungan Strategis

Dilansir dari Al Jazeeras, menurut beberapa pengamat, Putin menghadapi dilema ganda. 

Secara reputasi, kepercayaan publik dan prestise Putin di Amerika Latin terpukul karena Maduro adalah sekutu setia Rusia.

Namun secara strategi jangka panjang, Moskow tetap mendapat keuntungan karena AS menegaskan prioritasnya dalam tatanan dunia baru, termasuk kebebasan Rusia bergerak di Ukraina, bekas wilayah Uni Soviet, dan Asia Tengah yang kaya energi.

“Prestise Putin memang terpukul karena Maduro adalah sekutu paling setia di Amerika Latin. Tapi yang lebih penting bagi Putin adalah bagaimana tindakan AS menciptakan tatanan dunia baru yang menekankan kekuatan, bukan hukum internasional,” kata Alisher Ilkhamov, kepala think tank Central Asia Due Diligence di London.

Tatanan dunia baru ini, menurut pengamat, memprioritaskan kekuatan dan kepentingan strategis, bukan kedaulatan negara.

Populer
recommended
Jangan Lewatkan
Our Networks
Member of mediaemas.id
seedbacklink