Ia menjadi salah satu dari ratusan marbot yang diberangkatkan ke Tanah Suci melalui program tersebut.
Pengalaman ini membuatnya merasa bahwa pengabdian kecil yang ia lakukan ternyata dihargai oleh pemerintah.
Marbot Muda: “Pengabdian Kami Dianggap Ada”
Respons positif juga datang dari Alif Maulana (25), marbot muda dari Desa Kembang Janggut, Kutai Kartanegara.
Selama lima tahun ia merawat surau kecil di desanya tempat yang jauh dari pusat keramaian, namun menjadi lokasi pengabdiannya setiap hari.
“Kami berharap semua marbot di Kaltim bisa merasakan hal yang sama. Tidak pernah terbayang bisa umrah tanpa biaya kalau bukan karena program Gubernur Pak Rudy Mas’ud,” kata Alif.
Ia merasa program ini membuat para marbot benar-benar dihargai.
Alif berangkat bersama dua rekannya setelah melalui proses pendaftaran yang melibatkan pengurus masjid dan verifikasi dari Kementerian Agama di tingkat kabupaten.
“Syaratnya jelas. Harus ada SK masjid dan diverifikasi kembali oleh Kemenag,” jelasnya.





