Perjalanan Inspeksi Kaisar dan Pencarian Keabadian
Qin Shi Huang juga melakukan serangkaian perjalanan inspeksi di seluruh kerajaannya dikenal sebagai “imperial tours” yang berlangsung antara tahun 220 SM hingga 210 SM.
Total lima perjalanan tercatat, di mana Qin Shi Huang mendaki gunung-suci, melakukan upacara sakral, dan menegaskan otoritas kekaisaran melalui penanda atau prasasti (stele) di berbagai tempat.
Di masa akhir hidupnya, Qin Shi Huang makin terobsesi dengan keabadian hidup.
Qin Shi Huang menugaskan para alkemis dan penyihir untuk mencari ramuan abadi, termasuk mengirim Xu Fu ke pulau-legendaris di laut timur untuk menemukan “elixir of life”.
Hal ini memperlihatkan sisi manusiawi sekaligus ambisius dari sang penguasa Qin Shi Huang sedang memegang kekuatan besar namun juga diguncang ketakutan akan kematian.
Akhir Hidup dan Warisan yang Bertahan
Pada tahun 210 SM, saat berada dalam perjalanan inspeksi ke timur, Qin Shi Huang wafat secara mendadak di wilayah yang sekarang merupakan Provinsi Hebei.
Kematian sang kaisar Qin Shi Huang menjadi pemicu konflik suksesi putranya yang dijadwalkan naik takhta digantikan oleh putra lainnya melalui intrik politik antara pejabat tinggi seperti Li Si dan Zhao Gao.
Setelah kematian sang kaisar, dinasti Qin runtuh dalam waktu singkat hanya beberapa tahun setelah itu, pemberontakan meluas dan kekuasaan Qin lenyap.
Kesimpulan
Perjalanan kekuasaan Qin Shi Huang menggambarkan bagaimana seorang pemimpin muda berhasil menyatukan negara yang terpecah, membentuk sistem pemerintahan yang sangat terpusat, dan meninggalkan warisan institusional yang berlangsung berabad‑abad.
Namun, di sisi lain, kekuasaan Qin Shi Huang dibayangi oleh tirani, obsesi pada keabadian, serta lonjakan penderitaan rakyat akibat proyek besar dan penindasan yang dilakukan. (daf)





