Sejak konflik Rusia–Ukraina, banyak perusahaan pelayaran Barat menghentikan kerja sama dengan Rusia.
Dampaknya, pengiriman minyak menjadi jauh lebih rumit karena minimnya kapal tanker yang bersedia mengangkut.
Situasi ini membuat transaksi tidak berhenti di kesepakatan jual-beli saja, tetapi juga bergantung pada siapa yang berani mengambil risiko mengangkut minyak tersebut ke Indonesia.
Sistem Pembayaran
Faktor kedua adalah sistem pembayaran. Rusia saat ini menghadapi pembatasan dalam sistem keuangan global, termasuk dari jaringan SWIFT.
Penggunaan dolar AS berisiko memicu sanksi sekunder dari negara Barat.
Sementara itu, opsi alternatif seperti pembayaran menggunakan mata uang lokal belum memiliki mekanisme yang benar-benar matang.
Artinya, bahkan jika Indonesia dan Rusia sepakat soal pasokan, transaksi bisa tetap terhambat karena belum ada jalur pembayaran yang aman dan disepakati kedua pihak.





