Saakashvili menyebut masalah kepolisian sebagai “simpul Gordian” yang tidak bisa diurai perlahan, melainkan harus dipotong dengan keputusan berani.
“Kami harus bertindak cepat sebelum masyarakat kembali apatis,” ujarnya dalam wawancara beberapa tahun kemudian.
Pemecatan Massal dan Pembangunan dari Nol
Langkah paling dramatis terjadi pada pertengahan 2004.
Seluruh polisi lalu lintas—salah satu unit paling korup—dibubarkan. Ratusan hingga ribuan aparat diberhentikan sekaligus. Tidak ada proses birokratis panjang.
Sebagai gantinya, pemerintah membentuk pasukan patroli baru dengan rekrutmen ketat.
Anak muda yang bersih dari rekam jejak korupsi dipilih, diberi pelatihan intensif, dan yang terpenting: digaji layak.
Batu Kutelia, salah satu pejabat kunci reformasi, menggambarkan situasi saat itu seperti “membangun kapal di tengah laut sambil belajar cara berlayar, sementara ada orang yang mencoba menenggelamkannya.”
Artinya, reformasi dilakukan sambil jalan, penuh risiko, dan tidak jarang menimbulkan kekacauan.
Namun, pemerintah lebih memilih berbuat salah sambil bergerak daripada menunda perubahan.
Para pejabat percaya, hanya dengan tindakan cepat mereka bisa merebut kembali kepercayaan publik.
Reaksi Masyarakat: Dari Skeptis ke Mendukung
Awalnya, banyak warga ragu. Mereka sudah terlalu lama dikecewakan aparat. Bahkan ada yang pesimis, menganggap reformasi ini hanya gimik politik.
Tetapi dalam waktu singkat, perubahan terlihat nyata.
Polisi lalu lintas yang biasanya rajin “menilang” di jalanan tiba-tiba menghilang.
Pasukan baru hadir dengan seragam bersih, mobil patroli modern, dan sikap yang lebih ramah kepada masyarakat.





