MEGAPOLITIK.COM - Kesepakatan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat tidak hanya berbicara soal tarif 19 persen, tetapi juga menyentuh sektor strategis mineral kritis yang menjadi perhatian global.
Dalam perjanjian tersebut, kedua negara sepakat memperkuat kerja sama di sektor nikel, kobalt, bauksit, tembaga, dan mangan komoditas yang dinilai penting bagi rantai pasok industri modern.
Sejumlah analis menilai langkah ini berkaitan dengan kepentingan Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan terhadap China dalam penguasaan dan pemrosesan mineral kritis dunia.
Indonesia, sebagai salah satu produsen nikel terbesar global, memegang posisi kunci dalam peta industri baterai kendaraan listrik dan energi terbarukan.
Dalam kesepakatan tersebut, Indonesia akan menerapkan pembatasan terhadap “kelebihan produksi” (excess production) pada fasilitas pengolahan mineral yang dimiliki asing.
Produksi diwajibkan mengikuti kuota pertambangan nasional, sebagai bagian dari penguatan tata kelola sektor hilirisasi.





