Trump secara jelas menyebut bahwa hari batas waktu bisa menjadi “Power Plant Day” dan “Bridge Day”, istilah yang ia gunakan untuk menunjukkan target utama operasi militer jika Iran gagal membuka selat tersebut.
Ancaman ini datang setelah Iran menolak proposal gencatan senjata yang diajukan oleh pihak ketiga dan tidak menunjukkan tanda‑tanda akan membuka Selat Hormuz tanpa syarat tertentu.
Militer Amerika Serikat pun diperkirakan telah mempersiapkan rencana operasi yang akan dimulai segera setelah tenggat berakhir, menandakan eskalasi signifikan dalam konflik bilateral yang sudah menewaskan ribuan orang dan memicu ketidakpastian global sejak Februari 2026.
Posisi Iran dan Penolakan terhadap Ultimatum
Di pihak lain, pemerintah Iran menegaskan bahwa mereka tidak akan membuka kembali Selat Hormuz tanpa kompensasi atau syarat tertentu atas kerusakan akibat perang yang dipaksakan oleh konflik yang sedang berlangsung.
Menurut pernyataan dari pejabat tinggi Iran, Selat Hormuz hanya akan dibuka jika sebagian pendapatan transit digunakan untuk mengompensasi kerugian perang serta mencakup kebijakan hukum baru yang diakui secara internasional.
Iran mengecam ultimatum Trump sebagai tindakan yang putus asa dan tidak realistis, serta menolak seruan untuk penutupan konflik tanpa syarat yang mereka anggap merugikan kedaulatan nasionalnya. (daf)





