MEGAPOLITIK.COM - Parlemen Timor Leste akhirnya membatalkan dua kebijakan kontroversial yang menuai penolakan luas dari publik.
Para anggota parlemen sepakat mencabut rencana pemberian tunjangan pensiun seumur hidup serta pembelian mobil dinas mewah untuk 65 anggota legislatif setelah gelombang demonstrasi besar melanda ibu kota Dili sejak awal pekan.
Keputusan ini diambil pada Rabu (24/9/2025) setelah ribuan mahasiswa melakukan aksi protes selama tiga hari berturut-turut di depan gedung parlemen.
Mereka menilai kebijakan tersebut tidak pantas dilakukan di tengah kondisi ekonomi rakyat yang masih sulit dan bergantung pada sumber daya minyak serta gas yang terus menipis.
“Kami telah mencapai kesepahaman dengan mahasiswa. Rencana pemberian tunjangan pensiun seumur hidup resmi kami cabut,” ujar salah satu perwakilan partai parlemen seperti dikutip dari Reuters.
Tekanan Publik yang Mengguncang Parlemen
Gelombang protes dimulai pada Senin (22/9/2025) dan diikuti oleh lebih dari 1.000 mahasiswa dari berbagai universitas di Dili.
Massa menuntut agar parlemen membatalkan kebijakan yang dianggap mencederai semangat keadilan sosial.
Sebelumnya, rencana pembelian 65 mobil dinas mewah senilai lebih dari US$4 juta juga memicu kemarahan masyarakat.
Akibatnya, anggota parlemen terpaksa membatalkan proyek tersebut pada awal September.
Namun, pencabutan rencana itu tidak cukup untuk meredam kemarahan publik setelah muncul wacana pemberian pensiun seumur hidup bagi pejabat negara.
Dalam unjuk rasa yang berlangsung panas, demonstran dilaporkan membakar ban, melempari polisi dengan batu, serta merusak fasilitas publik.
Aparat kepolisian sempat menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa di depan gedung parlemen.
Negara Kecil dengan Masalah Besar
Timor Leste, atau secara resmi dikenal sebagai Republik Demokratik Timor Leste, merupakan negara kecil di Asia Tenggara dengan populasi sekitar 1,3 juta jiwa.
Negara ini merdeka dari Indonesia pada tahun 2002 setelah referendum bersejarah yang diawasi oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 1999.
Meski sudah lebih dari dua dekade merdeka, Timor Leste masih menghadapi tantangan ekonomi serius.
Sebagian besar pendapatannya masih bergantung pada cadangan minyak dan gas alam, yang kini mulai menurun.
Kondisi inilah yang membuat publik marah ketika mendengar pejabat parlemen berencana menikmati fasilitas mewah.
Aksi Mahasiswa Berbuah Perubahan
Setelah parlemen mengumumkan pencabutan kebijakan tersebut, aksi demonstrasi pun mulai mereda.
Para mahasiswa menyambut keputusan itu sebagai kemenangan rakyat atas kebijakan yang dianggap tidak adil.
Langkah cepat parlemen ini mendapat apresiasi luas, baik dari masyarakat maupun kelompok sipil, karena menunjukkan adanya tekanan publik yang efektif dalam mendorong transparansi dan tanggung jawab pejabat negara di Timor Leste. (tam)





