MEGAPOLITIK.COM - Hantavirus kembali jadi perhatian internasional setelah klaster kasus muncul di kapal pesiar MV Hondius yang berangkat dari Ushuaia, Argentina.
Kapal itu membawa penumpang dari 23 negara, sehingga pelacakan kontak dilakukan lintas negara setelah muncul dugaan paparan selama perjalanan.
Kasus tersebut menjadi sorotan karena diduga berkaitan dengan Andes virus, salah satu varian hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia dalam kondisi tertentu.
WHO menjelaskan penularan Andes virus umumnya terjadi melalui kontak dekat dan berkepanjangan dengan pasien yang sudah terinfeksi pada fase awal sakit.
Di Indonesia, hantavirus juga sudah ditemukan dan dipantau pemerintah melalui sistem surveilans kesehatan.
Namun, jenis hantavirus yang beredar di Indonesia berbeda dengan varian Andes yang dikaitkan dengan kejadian di kapal pesiar tersebut.
Berikut penjelasan mengenai perbedaannya.
Hantavirus di Indonesia
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan menegaskan hantavirus memang sudah ada dan terus dipantau melalui surveilans.
Pada 19 Juni 2025, Kemenkes melaporkan delapan kasus HFRS ditemukan di empat provinsi, yakni DI Yogyakarta, Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, dan Sulawesi Utara, dan seluruh pasien dinyatakan sembuh.
Kemenkes juga menyebut pemerintah telah menyiapkan pedoman, FAQ, media KIE, serta sosialisasi kewaspadaan ke seluruh kabupaten dan kota di Indonesia.
Virus yang Paling Sering Ditemukan
Menurut penjelasan Kemenkes, hantavirus di Indonesia paling sering berkaitan dengan strain Seoul virus yang menyebabkan HFRS atau hemorrhagic fever with renal syndrome.
Penularannya terutama terjadi dari tikus dan celurut melalui urine, feses, saliva, atau aerosol yang terkontaminasi, sedangkan penularan antarmanusia belum pernah dilaporkan di Indonesia.
Gejalanya umumnya berupa demam, sakit kepala, nyeri punggung dan perut, mual, mata merah, hingga gangguan ginjal pada tahap lanjut.
Andes Virus di Argentina
Berbeda dengan itu, kasus yang menjadi sorotan di Argentina terkait Andes virus, yaitu jenis hantavirus yang dapat menyebabkan hantavirus pulmonary syndrome atau HPS, penyakit paru berat yang bisa berakibat fatal.
WHO menegaskan Andes virus merupakan satu-satunya hantavirus yang diketahui dapat menular antarmanusia secara terbatas, biasanya melalui kontak dekat dan berkepanjangan dengan pasien.
CDC juga menyebut Andes virus sebagai satu-satunya jenis hantavirus yang terbukti memiliki penularan dari orang ke orang.
Perbedaan Utama
Perbedaannya terletak pada jenis penyakit, pola penularan, dan wilayah sebaran virus.
Hantavirus yang ditemukan di Indonesia lebih berkaitan dengan HFRS dan penularan dari hewan ke manusia, sedangkan Andes virus di Amerika Selatan lebih sering dikaitkan dengan HPS dan memiliki risiko penularan antarmanusia meski terbatas.
Karena itu, perhatian internasional terhadap kasus di kapal pesiar bukan berarti semua hantavirus memiliki risiko yang sama.
Yang membuat kasus Argentina lebih sensitif adalah dugaan paparan lintas negara selama perjalanan kapal dan keterlibatan banyak negara dalam proses pelacakan kontak.
Kesimpulan
Sederhananya, hantavirus di Indonesia dan Andes virus di Argentina sama-sama berasal dari kelompok yang sama, tetapi perilaku penularannya berbeda.
Itulah sebabnya Kemenkes menekankan kewaspadaan di dalam negeri lewat edukasi, pengendalian rodensia, dan surveilans, sementara kasus Andes virus di Amerika Selatan dipantau ketat karena ada kemungkinan penularan antar manusia dalam kontak dekat. (daf)
- Wapres Gibran Gelar Audiensi Aspeksindo Bahas Percepatan dan Penguatan Pesisir Kepulauan, Apa Bentuk Nyata Program Perkuatan Kepulauan?
- Presiden Prabowo Subianto Hadiri KTT ASEAN 48 Cebu Filipina Bahas Konflik Timur Tengah, Berikut 3 Pejabat Kabinet Merah Putih yang Mendampinginya!
- Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tembus 5,61 Persen: Rupiah Justru Anjlok, Ini Penyebabnya





