MEGAPOLITIK.COM - Proyek Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh) masih menjadi sorotan karena tingginya biaya pembangunan yang mencapai Rp116 triliun.
Meski beban utang itu terus dibicarakan, kinerja operasional Whoosh justru menunjukkan tren positif.
Sejak diresmikan Presiden Joko Widodo pada Oktober 2023, kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini terus mencatat pertumbuhan penumpang, peningkatan frekuensi perjalanan, serta ketepatan waktu yang hampir sempurna.
Capaian ini menunjukkan bagaimana performa positif kereta cepat whoosh yang signifikan selama dua tahun beroperasi.
Catatan Penumpang
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat peningkatan jumlah penumpang Whoosh sebesar 6,3 persen pada periode Januari hingga Oktober 2025 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dalam sepuluh bulan pertama tahun ini, layanan Whoosh telah melayani lebih dari 5,1 juta penumpang, naik dari 4,8 juta pada 2024 di periode yang sama.
Secara kumulatif, sejak beroperasi secara komersial pada Oktober 2023, Whoosh telah mengangkut lebih dari 12,2 juta penumpang.
Angka ini menjadi bukti bahwa moda transportasi cepat tersebut semakin diterima masyarakat dan mulai berperan penting dalam mendukung mobilitas antara Jakarta dan Bandung.
Okupansi Naik pada Akhir Pekan dan Libur Panjang
Lonjakan jumlah penumpang turut berdampak pada tingkat keterisian kursi (okupansi) Whoosh yang terus meningkat dari bulan ke bulan.
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat permintaan tertinggi terjadi pada akhir pekan dan periode libur panjang, seperti musim Lebaran 2025 yang sempat mencapai sekitar 21.000 penumpang per hari.
Pada masa libur lainnya, seperti peringatan HUT RI, angka itu bahkan diprediksi menembus 23.000 penumpang per hari.
Tren ini menunjukkan bahwa Whoosh tidak hanya menjadi sarana mobilitas rutin bagi masyarakat Jabodetabek dan Bandung Raya, tetapi juga telah berkembang menjadi pilihan wisatawan yang mengutamakan kecepatan dan kenyamanan perjalanan antara dua kota besar tersebut.
Ketepatan Waktu dan Jadwal Operasional
PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) mencatat tingkat ketepatan waktu keberangkatan (on-time performance) Whoosh mencapai 99,9 persen, menjadikannya salah satu moda transportasi paling andal di Indonesia.
Sejak Februari 2025, layanan kereta cepat Jakarta–Bandung ini telah beroperasi dengan sekitar 62 perjalanan setiap hari, menyesuaikan dengan meningkatnya permintaan pengguna.
Waktu tempuh antar dua kota tersebut berkisar 45 hingga 46 menit, menunjukkan efisiensi tinggi dibanding moda transportasi darat lainnya.
Ekosistem Ekonomi di Sekitar Stasiun
Selain berfokus pada transportasi, Whoosh juga memperluas dampak ekonomi di kawasan sekitar stasiun.
Saat ini terdapat 188 tenant yang beroperasi di seluruh stasiun Whoosh, terdiri dari 76 tenant UMKM dan 112 tenant non-UMKM.
Tenant-tenant ini menawarkan berbagai produk mulai dari makanan, minuman, suvenir, hingga perlengkapan perjalanan.
Kehadiran mereka ikut mendorong pertumbuhan ekonomi lokal dan meningkatkan kenyamanan penumpang.
Inovasi dan Peningkatan Layanan
Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) telah menerapkan sistem tiket digital penuh untuk Whoosh.
Pembelian, perubahan jadwal, dan refund bisa dilakukan melalui aplikasi resmi maupun situs web resmi.
Fasilitas layanan juga mulai diperbarui, sejumlah stasiun sudah dilengkapi ruang tunggu dan lounge yang lebih modern, vending machine tiket, dan integrasi antarmoda yang semakin baik.
Tantangan Pembiayaan dan Arah Ke Depan
Meski performa operasional Whoosh terus berikan arah yang positif, beban keuangan proyek ini masih menjadi perhatian utama.
Pemerintah melalui Kementerian Keuangan Republik Indonesia bersama PT Kereta Cepat Indonesia China sedang menyusun skema penyelesaian utang sekitar Rp 116 triliun agar tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Opsi seperti restrukturisasi pinjaman, perpanjangan tenor, dan skema non-APBN tengah dikaji sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan proyek tanpa langsung menggunakan dana negara.
Kesimpulan
Di tengah sorotan terhadap besarnya utang proyek yang mencapai Rp116 triliun, performa positif kereta cepat whoosh tetap menunjukkan performa operasional yang mengesankan.
Dalam dua tahun beroperasi, layanan kereta cepat pertama di Asia Tenggara ini berhasil mencatat lebih dari 12 juta penumpang dengan tingkat ketepatan waktu hampir sempurna.
Selain meningkatkan mobilitas antarwilayah, Whoosh juga memberi dampak ekonomi bagi kawasan sekitar stasiun dan mendorong inovasi dalam layanan transportasi publik nasional. (daf)





