MEGAPOLITIK.COM - Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pemimpin tertinggi baru Iran memicu reaksi keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Dalam sejumlah pernyataan kepada media, Trump secara terbuka mengaku tidak senang dengan keputusan Iran yang mengangkat putra dari Ayatollah Ali Khamenei tersebut sebagai pemimpin tertinggi negara itu.
Penunjukan Mojtaba Khamenei terjadi setelah wafatnya Ayatollah Ali Khamenei pada 28 Februari 2026 dalam serangan udara yang terjadi di tengah konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel.
Setelah kematian pemimpin yang telah memerintah Iran selama lebih dari tiga dekade itu, lembaga ulama Iran yang dikenal sebagai Majelis Ahli (Assembly of Experts) bergerak cepat memilih pengganti untuk menjaga stabilitas politik negara.
Pada 8 Maret 2026, Mojtaba Khamenei secara resmi diumumkan sebagai pemimpin tertinggi Iran yang baru.
Reaksi Trump
Donald Trump menyampaikan sikap tegas setelah Mojtaba Khamenei resmi ditetapkan sebagai pemimpin tertinggi Iran.
Ia menyebut penunjukan tersebut sebagai pilihan yang tidak dapat diterima oleh Amerika Serikat.
Bahkan Trump menyatakan dirinya tidak senang dengan pengangkatan ini.
“Tidak akan saya katakan. Saya tidak senang dengannya,” ucap Trump.
Pernyataan ini disampaikan beberapa hari setelah Mojtaba Khamenei diumumkan sebagai penerus, hampir seminggu pasca kematian ayahnya dalam serangan udara.
Dalam sejumlah pernyataan kepada media internasional, Trump menilai Mojtaba Khamenei bukan sosok yang tepat untuk memimpin Iran.
Ia bahkan menyebutnya sebagai pemimpin yang tidak memiliki pengaruh besar dan menyatakan bahwa keputusan tersebut tidak akan membawa stabilitas di kawasan.
Trump juga menyampaikan bahwa kepemimpinan Iran seharusnya tidak diputuskan tanpa mempertimbangkan dampaknya terhadap stabilitas global.
Ia bahkan pernah mengatakan bahwa Amerika Serikat seharusnya memiliki suara dalam proses penentuan pemimpin baru Iran, pernyataan yang langsung memicu kritik dari berbagai pihak.
Selain menyebut penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai pilihan yang tidak dapat diterima, Trump juga memperingatkan bahwa pemimpin baru Iran “tidak akan bertahan lama” jika tidak ada perubahan dalam hubungan Teheran dengan Washington.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap keras pemerintahan AS terhadap pemerintah Iran yang selama ini dianggap sebagai lawan strategis di Timur Tengah.
Mojtaba Khamenei dan Kontroversi Suksesi
Mojtaba Khamenei merupakan putra kedua Ali Khamenei dan selama bertahun-tahun dikenal memiliki pengaruh besar di balik layar politik Iran.
Ia memiliki jaringan kuat di kalangan ulama konservatif serta Garda Revolusi Iran (IRGC), meskipun jarang tampil di depan publik.
Penunjukan Mojtaba Khamenei juga memicu perdebatan karena dianggap sebagai bentuk “dinasti politik” dalam sistem Republik Islam Iran.
Sebagian pengamat menilai pengangkatan putra dari pemimpin sebelumnya dapat memperkuat dominasi kelompok garis keras dalam pemerintahan Iran.
Selain itu, situasi Iran saat ini sedang menghadapi tekanan besar, baik dari konflik militer dengan Israel dan Amerika Serikat maupun dari masalah ekonomi dan ketegangan politik di dalam negeri.
Mojtaba Khamenei diperkirakan akan menghadapi tantangan berat untuk mempertahankan stabilitas negara sekaligus menjaga pengaruh Iran di kawasan Timur Tengah. (daf)





