MEGAPOLITIK.COM - Mengenal asal usul keluarga besar Gus Yahya yang berasal dari NU.
Isu pemakzulan terhadap Ketua Umum PBNU, Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya, mencuat setelah beredarnya risalah rapat harian Syuriyah PBNU yang disebut berlangsung pada 20 November 2025.
Dalam dokumen tersebut, Gus Yahya dikabarkan diminta mundur dalam waktu tiga hari, dan jika tidak, akan diberhentikan dari jabatannya.
Informasi itu segera menyebar dan memicu spekulasi mengenai ketegangan internal di tubuh PBNU.
Gus Yahya kemudian menegaskan bahwa rapat harian Syuriyah PBNU tidak memiliki kewenangan untuk memberhentikan ketua umum, sesuai mekanisme AD/ART PBNU.
Tak lama setelahnya, sekitar 50 kiai sepuh mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada pemakzulan Gus Yahya, dan masa khidmat harus dijalankan sesuai ketetapan Muktamar.
Pernyataan itu meredam situasi, meski suhu internal organisasi masih terasa dingin.
Namun pada 26 November 2025, PBNU mengeluarkan surat edaran yang menyatakan bahwa Gus Yahya tidak lagi berstatus sebagai Ketua Umum PBNU” dan kehilangan hak serta wewenang atas jabatan itu dimulai hari ini.
Lantas, siapa sosok Gus Yahya? Bagaimana latar belakang keluarga besar Gus Yahya yang membentuk dirinya? Berikut penjelasannya.
Gus Yahya Putra dari KH. Cholil Bisri
Gus Yahya lahir pada 16 Februari 1966 di Rembang, Jawa Tengah. Gus Yahya merupakan putra dari KH. Muhammad Cholil Bisri, ulama kharismatik yang dikenal sebagai pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh.
KH. Cholil Bisri dikenal sebagai sosok yang rendah hati, berpikiran tenang, serta ahli dalam bidang fikih sehingga dihormati di berbagai lingkungan pesantren serta ibu Gus Yahya, bernama Nyai Hj. Muchsinah.
Latar keluarga yang kuat dalam tradisi keilmuan pesantren memberikan Gus Yahya dasar pendidikan agama yang mendalam, yang membentuk keterlibatannya dalam dunia Nahdlatul Ulama sejak muda.
Kakek Gus Yahya, K.H. Bisri Mustafa Sang Ulama Besar dan Sastrawan
KH. Bisri Mustofa dikenal sebagai salah satu ulama besar Nahdlatul Ulama (NU) yang berpengaruh, lahir di Rembang dan aktif berdakwah di kawasan pesisir utara Jawa.
Ia bukan hanya pendidik pesantren, tetapi juga penulis produktif yang menghasilkan banyak karya keagamaan, mulai dari tafsir, fikih, hadis, hingga sastra.
Salah satu karyanya yang paling dikenal adalah Tafsir al-Ibriz, sebuah tafsir Al-Qur’an berbahasa Jawa Pegon yang hingga kini masih dipelajari di berbagai pesantren dan menjadi rujukan penting di lingkungan NU.
Melalui karya-karya tersebut, KH. Bisri Mustofa memberikan kontribusi besar dalam pengembangan literasi keislaman di kalangan santri dan masyarakat Jawa.
Sejumlah sumber mencatat bahwa dakwah, pendidikan, dan tulisan-tulisannya telah memperkuat tradisi intelektual pesantren selama puluhan tahun.
Keponakan KH. Mustofa Bisri (Gus Mus)
Gus Yahya merupakan keponakan dari Gus Mus ulama, seniman, dan mantan Rais Syuriyah PBNU karena ayahnya dan Gus Mus adalah bersaudara.
Gus Mus sendiri dikenal luas sebagai sosok kiai sekaligus budayawan, aktif dalam dakwah, sastra, dan seni.
Karena latar keluarga ini, Gus Yahya termasuk bagian dari keluarga besar Bisri yang memiliki tradisi panjang dalam dunia pesantren dan intelektualisme NU.
Gus Yahya Merupakan Saudara Kandung Yaqut Cholil Qoumas, Tokoh NU
Gus Yahya merupakan kakak kandung dari Yaqut Cholil Qoumas, yang menjabat sebagai Menteri Agama RI periode 2020–2024 dan pernah menjadi Ketua Umum GP Ansor.
Keduanya lahir dari keluarga yang sama, putra dari KH Muhammad Cholil Bisri, yang dikenal sebagai garis ulama Nahdlatul Ulama.
Hubungan keluarga ini menegaskan bahwa Gus Yahya dan Yaqut sama-sama berasal dari lingkungan pesantren dan tradisi keulamaan yang kuat, meski keduanya menempuh jalur organisasi dan karier yang berbeda.
Saat ini Yaqut Cholil Qoumas tengah diperiksa KPK sebagai saksi dalam penyidikan dugaan korupsi kuota haji.
KPK telah melakukan langkah pencegahan, termasuk melarang Yaqut bepergian ke luar negeri, sembari mendalami bukti dan alur pembagian kuota.
Alasan Gus Yahya Sempat Kena Isu Pemakzulan
Sebagai informasi tambahan, isu pemakzulan terhadap Gus Yahya muncul karena adanya perbedaan sikap internal PBNU, terutama terkait kebijakan organisasi, gaya kepemimpinan, hingga dinamika yang berkembang di beberapa wilayah.
Sejumlah pihak disebut tidak sepakat dengan arah pengelolaan struktur tertentu sehingga rumor ultimatum sempat mencuat.
Namun, klarifikasi para kiai sepuh menegaskan bahwa pemakzulan tidak sah dan tidak sesuai mekanisme Muktamar.
Kesimpulan
Meski sebelumnya isu pemakzulan sempat menimbulkan kontroversi, pada 26 November 2025 PBNU secara resmi mencopot Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum.
Latar belakang keluarga besar Gus Yahya yang kuat dalam tradisi ulama putra KH. Cholil Bisri, cucu K.H. Bisri Mustafa, keponakan Gus Mus, serta kakak dari Yaqut Cholil Qoumas tetap menegaskan posisi Gus Yahya sebagai bagian dari keluarga besar NU yang berpengaruh.
Namun, secara formal, jabatan kepemimpinannya di PBNU kini sudah tidak berlaku. (daf)





