MEGAPOLITIK.COM - Presiden Amerika Serikat Donald Trump memutuskan memperpanjang masa gencatan senjata dengan Iran tanpa batas waktu.
Keputusan ini diambil setelah adanya permintaan dari Pakistan yang berperan sebagai mediator dalam pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran.
Dalam pernyataannya di platform Truth Social, Trump menyebut bahwa militer Amerika Serikat tetap diperintahkan melanjutkan blokade dan berada dalam kondisi siaga penuh.
Ia menegaskan bahwa gencatan senjata akan terus berlaku hingga Iran memberikan respons terhadap proposal negosiasi dari Amerika Serikat atau hingga pembicaraan benar-benar menemui jalan buntu.
Langkah ini dinilai sebagai upaya untuk memberikan ruang bagi proses diplomasi yang masih berlangsung di tengah ketegangan yang belum sepenuhnya mereda.
Negosiasi Nuklir Masih Berjalan, AS Tunggu Respons Teheran
Pemerintah Amerika Serikat masih membuka peluang tercapainya kesepakatan nuklir dengan Iran.
Wakil Presiden JD Vance bahkan dilaporkan membatalkan kunjungannya ke Islamabad karena belum adanya kepastian dari Teheran terkait partisipasi dalam pembicaraan lanjutan.
Sumber yang mengetahui proses tersebut menyebutkan bahwa Vance dapat segera melakukan perjalanan jika Iran memberikan tanggapan.
Pada hari yang sama, ia terlihat menghadiri pertemuan darurat di Gedung Putih bersama Menteri Luar Negeri Marco Rubio.
Dalam putaran negosiasi sebelumnya, kedua pihak membahas skema pertukaran yang melibatkan pencairan dana beku senilai 20 miliar dolar Amerika Serikat atau pelonggaran sanksi sebagai imbalan atas pemindahan cadangan uranium yang diperkaya tinggi milik Iran.
Pernyataan Trump Berubah, Dari Ancaman ke Nada Lebih Lunak
Keputusan memperpanjang gencatan senjata ini menunjukkan perubahan sikap Donald Trump.
Sebelumnya, ia sempat menyatakan tidak akan memperpanjang kesepakatan jika Iran tidak membuka kembali Selat Hormuz.
Dalam wawancara media, Trump bahkan sempat mengisyaratkan opsi militer dengan mengatakan bahwa pengeboman bisa menjadi langkah yang dipertimbangkan.
Namun, di sisi lain, ia tetap menyebut peluang tercapainya kesepakatan masih terbuka.
Tim negosiasi Amerika Serikat yang juga melibatkan utusan khusus Steve Witkoff dan penasihat Jared Kushner disebut optimistis bahwa kesepakatan dapat dicapai dalam waktu dekat.
Iran Tegaskan Tolak Negosiasi di Bawah Tekanan
Di Iran, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan bahwa negaranya tidak akan menerima negosiasi yang dilakukan di bawah ancaman.
Dalam pernyataannya di platform X, ia menuduh Amerika Serikat lebih menginginkan penyerahan Iran daripada solusi damai yang adil.
Pernyataan ini menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata diperpanjang, jalan menuju kesepakatan masih dipenuhi tantangan.
Situasi ini mencerminkan dinamika yang terus berubah antara tekanan militer dan upaya diplomasi, yang kini berjalan bersamaan dalam konflik antara Amerika Serikat dan Iran. (daf)





