Sabtu, 9 Mei 2026

Di Balik Tawaran Minyak Rusia ke Indonesia, Ada Tiga Faktor yang Bikin Realisasinya Tak Semudah Itu

Tantangan Teknis Impor Minyak Ke Rusia

Jumat, 17 April 2026 - 19:24

MINYAK - Rusia siap pasok energi ke Indonesia, tetapi tiga kendala utama masih jadi perhatian

MEGAPOLITIK.COM - Pemerintah Indonesia membuka peluang kerja sama energi dengan Rusia setelah pertemuan antara Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Vladimir Putin di Moskow. 

Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas peluang penguatan kemitraan strategis, termasuk potensi pasokan minyak mentah dan gas untuk menjaga ketahanan energi nasional.  

Tawaran ini datang di tengah situasi global yang tidak menentu, terutama akibat konflik geopolitik yang memengaruhi distribusi energi dunia. 

Rusia bahkan secara terbuka menyatakan kesiapan memasok minyak dan gas bagi Indonesia jika dibutuhkan. 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia juga mengonfirmasi bahwa pemerintah tidak menutup kemungkinan impor energi dari Rusia sebagai langkah menjaga stabilitas pasokan dalam negeri. 

Namun di balik peluang besar tersebut, realisasi kerja sama ini tidak semudah yang dibayangkan. 

Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Federasi Rusia untuk Republik Indonesia, Sergei Tolchenov, mengungkapkan setidaknya ada tiga faktor yang perlu diselesaikan.

Kapal Pengangkut Minyak

Faktor pertama datang dari sisi logistik. 

Tolchenov menegaskan bahwa persoalan terbesar bukan pada ketersediaan minyak, melainkan bagaimana mengirimkannya ke Indonesia.

Sejak konflik Rusia–Ukraina, banyak perusahaan pelayaran Barat menghentikan kerja sama dengan Rusia

Dampaknya, pengiriman minyak menjadi jauh lebih rumit karena minimnya kapal tanker yang bersedia mengangkut.

Situasi ini membuat transaksi tidak berhenti di kesepakatan jual-beli saja, tetapi juga bergantung pada siapa yang berani mengambil risiko mengangkut minyak tersebut ke Indonesia.

Sistem Pembayaran

Faktor kedua adalah sistem pembayaran. Rusia saat ini menghadapi pembatasan dalam sistem keuangan global, termasuk dari jaringan SWIFT.

Penggunaan dolar AS berisiko memicu sanksi sekunder dari negara Barat. 

Sementara itu, opsi alternatif seperti pembayaran menggunakan mata uang lokal belum memiliki mekanisme yang benar-benar matang.

Artinya, bahkan jika Indonesia dan Rusia sepakat soal pasokan, transaksi bisa tetap terhambat karena belum ada jalur pembayaran yang aman dan disepakati kedua pihak.

Tidak Ada Harga Khusus

Faktor ketiga adalah soal harga. Rusia menegaskan tidak ada skema “harga teman” dalam kerja sama ini.

Transaksi akan dilakukan secara business-to-business, misalnya antara Pertamina dengan perusahaan Rusia, dengan harga mengikuti mekanisme pasar.

Memang, secara teori minyak Rusia bisa lebih murah, namun biaya logistik dan risiko tambahan bisa membuat harga akhirnya tidak jauh berbeda. 

Peluang Ada, Tapi Penuh Risiko

Dengan tiga faktor dari kapal, pembayaran, dan harga rencana impor energi dari Rusia masih jauh dari kata pasti.

Indonesia memang membutuhkan diversifikasi sumber energi, tetapi di tengah tekanan geopolitik global, setiap keputusan membawa konsekuensi besar. 

Bukan hanya soal ekonomi, tetapi juga menyangkut risiko logistik dan kendala sistem keuangan internasional. (daf)

Populer
recommended
Jangan Lewatkan
Our Networks
Member of mediaemas.id
seedbacklink